Gangguan PLTGU Uji Ketahanan Listrik Samarinda

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto.

UpdateIKN.com, Samarinda –   Gangguan pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) kembali menunjukkan betapa pentingnya keandalan pasokan listrik bagi aktivitas masyarakat di Kota Samarinda.

Ketika pembangkit mengalami kendala teknis, dampaknya langsung menjalar ke berbagai sektor, mulai dari rumah tangga, pelayanan publik hingga dunia usaha.

Selama proses perbaikan berlangsung, sistem kelistrikan interkoneksi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara harus dijaga melalui skema pemadaman bergilir.

Kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan mencegah gangguan yang lebih besar pada jaringan listrik.

Bagi sebagian masyarakat, pemadaman selama sekitar tiga jam mungkin hanya mengubah rutinitas harian.

Namun bagi pelaku usaha, waktu tersebut berarti hilangnya kesempatan berproduksi, tertundanya pelayanan kepada pelanggan, hingga terganggunya target pendapatan.

Situasi itu mendapat perhatian dari Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto. Dia mengingatkan bahwa persoalan kelistrikan tidak dapat dipandang hanya sebagai gangguan teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan keberlangsungan aktivitas ekonomi daerah.

“Pasokan listrik menjadi kebutuhan utama saat ini. Ketika listrik terganggu, hampir semua aktivitas ikut terdampak, baik usaha masyarakat maupun pelayanan di perkantoran,” ujar Rusdi.

Menurutnya, percepatan penyelesaian gangguan pada PLTGU menjadi langkah penting agar dampak ekonomi tidak semakin meluas. Terlebih, banyak sektor usaha yang mengandalkan listrik untuk menjalankan seluruh proses operasionalnya.

“Kalau kondisi ini berlangsung terlalu lama, tentu beban yang ditanggung pelaku usaha akan semakin besar. Produktivitas menurun dan pelayanan kepada konsumen juga ikut terhambat,” katanya.

Rusdi menyebut pelaku UMKM Samarinda menjadi salah satu kelompok yang paling membutuhkan kepastian pasokan listrik. Usaha kuliner, misalnya, sangat bergantung pada peralatan listrik dalam proses produksi maupun penyimpanan bahan baku.

“Usaha kecil memiliki kemampuan yang terbatas untuk mengantisipasi kondisi seperti ini. Karena itu, percepatan pemulihan sistem menjadi harapan semua pihak,” ucapnya.

Di sisi lain, Manager PLN UP3 Samarinda, Adrian Sitompul, memastikan seluruh tim teknis masih bekerja melakukan pemulihan pada komponen pembangkit yang mengalami gangguan.

Menurutnya, setiap tahapan perbaikan dilakukan secara cermat agar sistem dapat kembali beroperasi dengan aman dan andal.

“Kami terus mengoptimalkan proses pekerjaan di lapangan. Target normalisasi sistem memang diproyeksikan selesai pada Juli 2026, namun apabila seluruh tahapan dapat diselesaikan lebih cepat, maka pasokan listrik akan segera kami pulihkan,” kata Adrian.

Dia juga meminta masyarakat memahami bahwa pemadaman bergilir merupakan langkah teknis untuk menjaga stabilitas jaringan selama kapasitas pembangkit belum sepenuhnya pulih.

“Ini merupakan upaya agar sistem tetap aman dan tidak terjadi gangguan yang lebih luas. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan pelanggan selama proses pemulihan berlangsung,” katanya.

Selain fokus mempercepat perbaikan, PLN memastikan hak pelanggan tetap menjadi perhatian. Adrian mengatakan, pelanggan yang mengalami pemadaman melebihi standar Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) akan memperoleh kompensasi sesuai ketentuan yang berlaku.

“Setiap pelanggan memiliki perhitungan kompensasi yang berbeda sesuai durasi dan kondisi layanan yang diterima. Mekanismenya mengacu pada regulasi yang berlaku,” pungkas Adrian. (Adv/DPRD Samarinda)

Iklan