BBM Nonsubsidi dan Tarif Pesawat Picu Inflasi Kaltim

UpdateIKN.com, Samarinda – Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan melonjaknya tarif angkutan udara selama musim libur sekolah menjadi pemicu utama kenaikan inflasi di Kalimantan Timur (Kaltim) pada Juni 2026.
Di saat yang sama, harga sejumlah bahan pangan strategis juga merangkak naik akibat terganggunya pasokan dari daerah sentra produksi.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kaltim Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,70 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,17 persen. Secara tahunan, inflasi tercatat 3,20 persen (year on year/yoy), sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,36 persen (year to date/ytd).
Kenaikan inflasi pada Juni menunjukkan tekanan harga di Kaltim lebih banyak berasal dari penyesuaian harga energi dan gangguan pasokan pangan. Dengan kata lain, laju inflasi kali ini lebih dipengaruhi faktor administered prices dan volatile food, bukan karena lonjakan daya beli masyarakat.
Kepala Perwakilan BI Kaltim, Jajang Hermawan, mengatakan kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Juni. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan meningkatnya permintaan angkutan udara selama libur sekolah menjadi faktor dominan yang mendorong kenaikan harga.
“Kelompok transportasi menjadi penyumbang utama inflasi pada Juni. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan meningkatnya tarif angkutan udara selama libur sekolah memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan inflasi,” ujar Jajang Hermawan dalam keterangan resminya, Kamis (2/7/2026).
Tak hanya biaya transportasi, harga sejumlah kebutuhan pokok juga ikut meningkat. Bawang merah, beras, dan ikan layang menjadi komoditas yang paling besar menyumbang inflasi setelah pasokannya terganggu akibat cuaca di daerah penghasil.
“Pasokan beberapa komoditas pangan strategis terganggu akibat faktor cuaca di daerah pemasok. Kondisi itu kemudian berpengaruh terhadap pembentukan harga di Kaltim,” katanya.
Kenaikan harga terjadi di seluruh daerah penghitungan inflasi di Kaltim. Kota Balikpapan mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,86 persen, disusul Samarinda 0,72 persen, Penajam Paser Utara 0,39 persen, dan Berau 0,27 persen.
BI Kaltim mencatat, bensin menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar sepanjang Juni. Setelah itu disusul tarif angkutan udara, bawang merah, beras, dan ikan layang. Meski demikian, laju inflasi tidak meningkat lebih tinggi karena sejumlah komoditas pangan justru mengalami penurunan harga.
“Harga daging ayam ras, cabai rawit, semangka, tomat, dan kacang panjang mengalami penurunan sehingga mampu meredam tekanan inflasi yang lebih besar,” terang Jajang.
Menghadapi potensi gejolak harga pada semester kedua tahun ini, BI Kaltim bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kaltim terus memperkuat strategi pengendalian melalui pendekatan 4K, yakni menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi kepada masyarakat.
Sepanjang Juni, berbagai langkah stabilisasi harga dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah dan operasi pasar di sejumlah daerah, seperti Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Bontang. Bersama Perum Bulog, pemerintah juga memperluas penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), distribusi Minyakita, serta memperkuat pasokan komoditas strategis lainnya.
“Upaya menjaga pasokan terus kami lakukan bersama pemerintah daerah dan Bulog agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi serta gejolak harga dapat ditekan,” ujarnya.
Selain menjaga pasokan, BI Kaltim . dan TPID Kaltim juga memperkuat koordinasi distribusi antardaerah untuk mengantisipasi hambatan logistik yang berpotensi memicu kenaikan harga. Di sisi lain, komunikasi publik terus diintensifkan melalui rapat koordinasi rutin hingga High Level Meeting TPID guna menjaga ekspektasi inflasi masyarakat.
“Pengendalian inflasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan barang, tetapi juga bagaimana distribusi berjalan lancar dan komunikasi kepada masyarakat tetap efektif sehingga ekspektasi inflasi dapat terjaga,” kata Jajang.
Jajang optimistis inflasi Kaltim tetap berada dalam kisaran yang terkendali hingga akhir tahun. Menurutnya, sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, Bulog, dan seluruh anggota TPID menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga di tengah berbagai tantangan, mulai dari penyesuaian harga energi hingga risiko cuaca terhadap pasokan pangan.
“Kami akan terus memperkuat implementasi strategi 4K, termasuk Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS). Dengan sinergi yang semakin kuat, kami optimistis stabilitas harga tetap terjaga, daya beli masyarakat terlindungi, dan pertumbuhan ekonomi Kaltim dapat terus berlanjut,” tutup Jajang Hermawan. (Putri/Par)





