UpdateIKN.com, Jakarta – Uang Rupiah yang sudah tidak layak edar ternyata masih memiliki perjalanan setelah ditarik dari peredaran. Bank Indonesia (BI) mengembangkan pengelolaan limbah hasil peracikan uang agar tidak berakhir begitu saja sebagai sampah.
Inovasi tersebut menjadi salah satu cerita menarik dalam Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 yang digelar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 14–16 Agustus 2026.
Program pengelolaan limbah racik uang yang dikembangkan BI bersama mitra bahkan meraih penghargaan Best New Environmental Project dari International Association of Currency Affairs (IACA) Award 2026.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali mengatakan penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya menghadirkan pengelolaan uang Rupiah yang tidak hanya berorientasi pada kualitas dan ketersediaan, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan.
“Kami mendapatkan penghargaan Best New Environmental Project dari International Association of Currency Affairs Award 2026,” kata Ricky saat membuka FERBI 2026, Jumat (14/8/2026).
Program tersebut mengubah cara pandang terhadap limbah uang. Material yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sisa dari proses pengelolaan uang kini dapat dimanfaatkan oleh sektor lain yang membutuhkan. BI bekerja sama dengan industri yang membutuhkan tambahan pasokan energi serta UMKM yang mampu mengolah kembali limbah uang menjadi produk bernilai ekonomi.
“Melalui program ini, Bank Indonesia bekerja sama dengan industri yang membutuhkan tambahan pasokan energi, serta UMKM yang dapat mengolah kembali limbah uang menjadi produk bernilai ekonomi,” ujarnya.
Pengelolaan uang Rupiah selama ini identik dengan pencetakan, distribusi, peredaran, hingga penarikan uang yang sudah tidak layak digunakan. Namun, proses tersebut menyisakan tantangan lain, yakni bagaimana menangani material uang yang telah ditarik dari masyarakat.
Di titik inilah pendekatan berkelanjutan menjadi penting. Alih-alih berhenti sebagai limbah, material tersebut diarahkan agar bisa dimanfaatkan kembali. Langkah ini sekaligus membuka peluang kerja sama dengan pelaku industri dan UMKM.
Bagi BI, pengelolaan Rupiah tidak berhenti ketika uang sudah tidak digunakan untuk transaksi. Ada tanggung jawab untuk memastikan seluruh prosesnya berlangsung secara efektif dan berkelanjutan.
“Program pengelolaan limbah racik uang ini merupakan bagian dari upaya Bank Indonesia dalam menghadirkan pengelolaan Rupiah yang modern dan berkelanjutan,” tutur Ricky.
Inovasi lingkungan tersebut menjadi bagian dari FERBI 2026, festival tahunan yang tahun ini memasuki penyelenggaraan kelima. Selain memperkenalkan pengelolaan limbah, BI menghadirkan berbagai sisi lain dari perjalanan Rupiah kepada masyarakat.
Pameran Rupiah menjadi salah satu agenda utama. Pengunjung dapat melihat perkembangan pengelolaan uang, teknologi, hingga infrastruktur yang digunakan untuk menjaga kualitas dan integritas Rupiah.
Festival tersebut juga melibatkan berbagai lembaga, antara lain TNI, Polri, Badan Pemeriksa Keuangan, Kementerian Perhubungan, BOTASUPAL, perbankan, dan asosiasi. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan Rupiah membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
“FERBI merupakan gelaran tahunan yang menjadi wadah kolaborasi strategis dalam pengelolaan uang Rupiah,” kata Ricky.
Menariknya, FERBI 2026 digelar ketika masyarakat semakin terbiasa menggunakan pembayaran digital. Transaksi melalui perangkat elektronik terus berkembang, tetapi menurut BI perubahan tersebut tidak menghilangkan posisi Rupiah.
Rupiah tetap menjadi satuan nilai dalam ekosistem pembayaran digital. Karena itu, masyarakat didorong untuk tidak hanya memahami bentuk fisik uang, tetapi juga memahami peran Rupiah dalam aktivitas ekonomi modern.
“Tidak hanya di uang tunai, Rupiah juga berdaulat sebagai satuan nilai dalam ekosistem pembayaran digital,” ujar Ricky.
BI juga kembali menyampaikan kampanye Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. Masyarakat diajak merawat uang, menggunakannya dalam transaksi sebagai bentuk kebanggaan terhadap mata uang nasional, serta memahami perannya dalam perekonomian.
“Momentum kemerdekaan dapat menjadi penguat komitmen untuk semakin Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah,” tuturnya.
FERBI 2026 tidak hanya bicara soal teknologi dan pengelolaan uang. BI juga membawa masyarakat melihat sisi sejarah Rupiah melalui penghormatan kepada keluarga para pahlawan nasional yang sosoknya diabadikan dalam desain uang.
Penghargaan diberikan kepada Prof. Dr. Meutia Hatta, Noorwati Djuanda, Radian Ratulangie Sugandi, Anastasia Dian Kaisiepo, S.H., Ety Sulastri, dan Diennaryati Tjokro sebagai wakil keluarga pahlawan.
Kehadiran para pahlawan dalam desain Rupiah menjadi pengingat bahwa uang yang digunakan sehari-hari juga membawa cerita mengenai perjalanan bangsa.
“Di setiap lembar dan keping uang yang beredar, Rupiah telah menjadi simbol persatuan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Ricky.
Selama tiga hari, masyarakat dapat mengikuti berbagai kegiatan edukatif dan interaktif. Selain pameran, tersedia gamifikasi, kompetisi mendongeng, mural, cerdas cermat, hingga lomba kreator konten.
Rangkaian talkshow juga mengangkat sejumlah isu, mulai dari perjalanan Rupiah dalam mendukung kedaulatan bangsa, pengelolaan uang yang ramah lingkungan, sampai literasi Rupiah untuk membangun masyarakat yang lebih sehat dan cerdas secara finansial.
Melalui FERBI 2026, BI ingin memperlihatkan bahwa mengelola Rupiah bukan hanya persoalan memastikan uang tersedia di masyarakat. Ada pula aspek teknologi, lingkungan, edukasi, sejarah, dan kolaborasi yang ikut menentukan keberlanjutan pengelolaan mata uang nasional.
“FERBI mengajak masyarakat untuk mengenal perjalanan Rupiah, memahami pentingnya menjaga kualitas dan integritas Rupiah, serta melihat berbagai inovasi pengelolaan uang Rupiah yang modern dan berkelanjutan,” tutup Ricky. (*/ Putri/Par)






