Hetifah Soroti Kesenjangan Belajar Anak akibat Karhutla Kaltim

Anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian. (ft: Ist)

UpdateIKN.com, Samarinda –   Pembelajaran jarak jauh di tengah dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) perlu dirancang dengan mempertimbangkan kondisi seluruh peserta didik.

Keterbatasan akses internet dan perangkat elektronik berpotensi menyulitkan anak-anak dari keluarga kurang mampu maupun mereka yang tinggal di daerah terpencil.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengingatkan agar penyesuaian kegiatan belajar selama bencana tidak memperlebar kesenjangan pendidikan.

Menurutnya, sekolah perlu memiliki pilihan metode pembelajaran yang dapat digunakan sesuai kemampuan siswa dan keluarganya.

“Pembelajaran jarak jauh tidak harus selalu dilakukan secara daring. Kita memahami bahwa tidak semua keluarga memiliki akses internet yang memadai atau perangkat belajar yang cukup,” ujar Hetifah, saat dikonfirmasi Selasa (20/10/2026).

Dia menilai, ketergantungan pada pembelajaran daring dapat menjadi kendala ketika siswa tidak memiliki fasilitas yang memadai di rumah. Dalam situasi seperti ini, sekolah perlu menyiapkan alternatif agar keterbatasan teknologi tidak menghalangi anak untuk tetap mengikuti kegiatan belajar.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah menggunakan modul cetak, memberikan penugasan sederhana, dan menjaga komunikasi antara guru dengan orang tua. Metode tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi peserta didik selama pembelajaran tatap muka harus dibatasi karena dampak karhutla.

“Karena itu, sekolah perlu diberikan keleluasaan menggunakan metode alternatif, seperti modul cetak, penugasan sederhana, dan komunikasi berkala antara guru dengan orang tua,” katanya.

Menurut Hetifah, fleksibilitas tersebut penting karena kemampuan setiap keluarga dalam mendampingi anak belajar tidak selalu sama. Sekolah perlu memperhatikan kendala yang dihadapi siswa agar kegiatan pembelajaran tetap dapat diikuti tanpa menambah beban keluarga.

Anak-anak di daerah terpencil dan keluarga kurang mampu menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian. Selain menghadapi dampak bencana terhadap kegiatan sekolah, mereka juga dapat mengalami keterbatasan dalam mengakses materi pembelajaran.

Hetifah meminta agar dinas pendidikan dan sekolah menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi setempat. Sementara itu, madrasah dan pesantren juga perlu memperoleh perhatian melalui koordinasi dengan Kementerian Agama.

Dia menilai, keberlangsungan pendidikan selama bencana membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada penggunaan teknologi, tetapi juga pada pemerataan kesempatan belajar. Guru dan orang tua perlu membangun komunikasi agar kendala yang dialami siswa dapat diketahui dan ditangani.

“Jangan sampai anak-anak yang tinggal di daerah terpencil atau berasal dari keluarga kurang mampu semakin tertinggal akibat kondisi ini,” tegasnya.

Penyesuaian pembelajaran juga harus tetap memperhatikan keselamatan anak. Ketika kualitas udara membahayakan kesehatan, kegiatan belajar perlu disesuaikan tanpa menghilangkan kesempatan peserta didik untuk memperoleh materi dan pendampingan.

Dengan metode yang lebih fleksibel, sekolah diharapkan dapat menjaga keberlangsungan pendidikan selama kondisi darurat. Dukungan pemerintah dan koordinasi dengan keluarga menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko ketertinggalan belajar.

Hetifah kembali mengingatkan bahwa perlindungan anak tidak hanya berkaitan dengan keselamatan fisik, tetapi juga pemenuhan hak mereka untuk memperoleh pendidikan.

“Prinsipnya, kesehatan anak harus dilindungi, tetapi hak mereka untuk tetap memperoleh pendidikan juga tidak boleh terabaikan,” pungkasnya. (End/Par)

Iklan