UpdateIKN.com, Samarinda Besarnya kekayaan sumber daya alam belum cukup untuk menjamin transformasi ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim).
Tantangan berikutnya adalah memperbesar nilai tambah, memperluas sektor usaha, dan memastikan investasi mampu menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih beragam.
Arah tersebut mengemuka dalam Mahakam Investment Forum (MIF) 2026 yang berlangsung pada 20–22 Oktober 2026. Forum yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur bersama Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Regional Investor Relations Unit (RIRU), bersinergi dengan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), mempertemukan ratusan calon investor dengan pemilik proyek potensial.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltim, Jajang Hermawan, menilai penguatan investasi perlu berjalan seiring dengan upaya memperbaiki struktur perekonomian daerah.
Dalam sambutannya, Jajang menyampaikan bahwa ekonomi Kaltim tumbuh 3,35 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Provinsi ini juga memberikan kontribusi sebesar 46,70 persen terhadap perekonomian Kalimantan.
Angka tersebut menunjukkan besarnya posisi Kaltim dalam perekonomian regional. Namun, potensi itu masih perlu dikembangkan melalui investasi yang mampu memperkuat industri pengolahan, memperluas kegiatan usaha, dan membuka peluang pertumbuhan baru.
“Investasi perlu kita dorong bukan hanya untuk meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi juga untuk memperkuat struktur perekonomian daerah. Kalimantan Timur memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan melalui hilirisasi dan diversifikasi sektor usaha,” ucap Jajang.
Salah satu hasil utama MIF 2026 adalah penandatanganan empat nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) di sektor hilirisasi dan energi dengan potensi nilai investasi Rp32,7 triliun.
Kerja sama tersebut meliputi rencana pembangunan pabrik gasifikasi batu bara, satu proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), serta dua proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Rencana investasi itu memperlihatkan bahwa pengembangan industri dan ketersediaan energi menjadi bagian penting dari upaya memperkuat daya saing Kaltim.
Hilirisasi membuka peluang agar sumber daya alam tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk yang memberikan nilai ekonomi lebih tinggi. Di sisi lain, dukungan energi yang memadai diperlukan untuk menunjang operasional industri dan menarik kegiatan usaha baru.
Jajang memandang peluang tersebut perlu ditindaklanjuti dengan penguatan kerja sama antara pemerintah, pemilik proyek, dan investor.
“Potensi yang dimiliki Kalimantan Timur harus dapat diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif. Karena itu, kita perlu memperkuat sinergi agar peluang hilirisasi dan pengembangan industri dapat ditindaklanjuti secara konkret,” demikian rumusan kutipan untuk dikonfirmasi kepada narasumber.
MIF 2026 diikuti 321 calon investor dan pelaku usaha dari dalam maupun luar negeri. Forum ini juga mencatat 51 sesi One-on-One Meeting (O3M) yang mempertemukan calon investor dengan 11 pemilik proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO).
Dari rangkaian pertemuan itu, tercatat 30 Letter of Intent (LoI), dengan Kaltim Industrial Estate (KIE) menjadi proyek yang memperoleh jumlah LoI terbanyak.
Hasil tersebut memberikan gambaran mengenai peluang yang diminati investor. Namun, pernyataan minat masih memerlukan tindak lanjut melalui pembahasan bisnis, kepastian pembiayaan, kesiapan proyek, dan pemenuhan berbagai persyaratan.
Menurut Jajang, kesinambungan antara promosi dan realisasi menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas investasi.
“Keberhasilan promosi investasi perlu dilihat dari tindak lanjut yang dihasilkan. Kita ingin penjajakan antara investor dan pemilik proyek berkembang menjadi kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi perekonomian daerah,” katanya.
Transformasi ekonomi Kaltim juga memperoleh peluang dari pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kehadiran pusat pemerintahan baru tersebut membuka kesempatan investasi pada perdagangan, logistik, akomodasi, serta jasa pendukung.
Di luar itu, Kepulauan Derawan dan Maratua memiliki potensi pengembangan pariwisata yang dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Menurut Jajang, pengembangan sektor-sektor potensial tersebut penting untuk memperluas pilihan investasi dan mengurangi ketergantungan pada sumber pertumbuhan yang terbatas.
“Peluang ekonomi Kalimantan Timur sangat beragam. Selain industri pengolahan, sektor perdagangan, logistik, dan pariwisata juga memiliki ruang untuk dikembangkan sebagai bagian dari transformasi ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud sebelumnya menyampaikan bahwa realisasi investasi daerah pada 2025 mencapai Rp87 triliun, meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar Rp76 triliun. Kaltim juga konsisten berada dalam jajaran 10 besar daerah tujuan investasi nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Keberadaan kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri menjadi salah satu penopang pengembangan industri serta kegiatan usaha bernilai tambah.
Ke depan, BI Kaltim bersama pemerintah daerah, OIKN, dan mitra strategis akan terus memperkuat promosi melalui RIRU. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas jejaring investasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Kaltim yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (End/Par)






