Riqi Effendi, Penyelam Basarnas Kaltim di Balik Misi SAR KM Virgo

UpdateIKN.com, Samarinda – Di balik operasi pencarian dan pertolongan (SAR) yang penuh risiko, ada personel yang harus menghadapi situasi berbahaya demi membantu sesama.
Salah satunya Riqi Efendi, anggota Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kalimantan Timur (Kaltim) yang terlibat dalam operasi SAR KM Virgo sebagai personel penyelam.
Tugas tersebut, bagi Riqi, bukan sekadar pekerjaan. Ada misi kemanusiaan yang harus dituntaskan, korban yang perlu ditemukan, serta keluarga yang terus menanti kabar dengan penuh harapan.
Sejak bergabung dengan Basarnas pada 2010, Riqi telah menjalani perjalanan panjang hingga menjadi personel penyelam profesional. Kemampuan itu dibangun melalui pendidikan dan pelatihan khusus setelah bergabung dengan Basarnas Special Group (BSG).
Dia mengikuti pendidikan di bidang penyelaman serta menempuh sejumlah jenjang lisensi penyelam secara bertahap selama beberapa tahun. Proses tersebut menjadi bagian penting untuk membekali dirinya menghadapi operasi SAR dengan tingkat kesulitan dan risiko yang tinggi.
Sebelum terlibat dalam operasi KM Virgo, Riqi mengaku telah beberapa kali bertugas dalam misi SAR berskala besar, termasuk operasi tingkat nasional. Keterlibatannya dalam operasi KM Virgo juga berkaitan dengan lisensi khusus yang dibutuhkan dalam misi tersebut.
Menjadi penyelam SAR bukan hanya soal kemampuan berada di dalam air. Kesiapan fisik, keterampilan teknis, penguasaan peralatan, serta kemampuan memahami risiko menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tugas tersebut.
Riqi menjelaskan, kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu penyelam. Seluruh personel Basarnas menjalani latihan fisik dan peningkatan keterampilan SAR secara terjadwal agar selalu siap ketika keadaan darurat terjadi.
“Jadi saat dibutuhkan atau emergency, personel maupun peralatan sudah dalam kondisi siap,” ujarnya, pada UpdateIKN.com.
Persiapan sebelum operasi juga dilakukan secara menyeluruh. Tim memastikan peralatan dan perlengkapan sesuai dengan kondisi di lokasi, sekaligus menyusun kebutuhan personel, pembagian tugas, dan dukungan operasional lainnya agar misi berjalan sesuai rencana.
Peralatan yang diperhatikan mencakup perlengkapan selam umum, peralatan selam khusus, hingga peralatan kesehatan apabila diperlukan.
Bagi Riqi, kesiapan tersebut menjadi fondasi penting dalam menghadapi operasi penyelaman yang memiliki tingkat risiko tinggi. Terlebih, setiap kondisi di lapangan dapat menghadirkan tantangan berbeda yang menuntut personel untuk selalu siap beradaptasi.
Sebelum penyelaman dilakukan dalam operasi SAR KM Virgo, tim terlebih dahulu menerima pengarahan mengenai kondisi dan rencana pelaksanaan tugas.
Informasi yang disampaikan meliputi posisi kapal, posisi korban, kedalaman penyelaman, hingga pekerjaan yang harus dilakukan di bawah air. Salah satu pekerjaan tersebut adalah memecahkan kaca jendela menggunakan kapak.
Setiap tahapan membutuhkan perhitungan yang matang. Penyelam tidak hanya dituntut menyelesaikan tugas, tetapi juga harus memastikan keselamatan diri dan rekan satu tim.
Riqi mengungkapkan, gambaran mengenai tingkat kesulitan operasi dipahami melalui pembaruan informasi, pengarahan sebelum bertugas, serta pengalaman dari penanganan kejadian sebelumnya.
Dengan bekal tersebut, tim dapat menyusun rencana berdasarkan kondisi yang diketahui dan risiko yang mungkin dihadapi.
Menjelang penyelaman, para personel juga menjalani pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisi fisik mereka layak melakukan tugas. Peralatan dipersiapkan sesuai standar operasional prosedur (SOP) penyelaman.
Pemeriksaan antarpersonel, pengarahan terakhir, serta doa menjadi bagian dari rutinitas sebelum masuk ke air.
Dalam operasi dengan risiko tinggi seperti SAR KM Virgo, keselamatan personel menjadi perhatian utama pimpinan.
Riqi menyebut Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menekankan pentingnya menjaga keselamatan tim.
Sementara itu, pembagian peran dan koordinasi teknis penyelaman dilakukan langsung oleh Komandan Kompi (Danki) BSG Hardiansyah Putra, yang menurut Riqi merupakan penyelam profesional dengan lisensi pada tingkat tertinggi di tim tersebut.
Koordinasi itu memastikan setiap rencana disusun secara matang, mulai dari pembagian tugas hingga aspek keselamatan selama penyelaman.
Bagi tim penyelam SAR, keberhasilan misi tidak dapat dilepaskan dari disiplin terhadap prosedur dan kemampuan bekerja sama. Dalam kondisi yang kompleks, setiap keputusan harus mempertimbangkan keselamatan sekaligus tujuan operasi kemanusiaan.
*Mengingat Keluarga di Rumah, Memikirkan Keluarga Korban*
Di balik berbagai prosedur teknis dan persiapan operasional, ada sisi personal yang selalu menyertai Riqi ketika menjalankan tugas.
Saat mengenang momen sebelum penyelaman pertama dalam operasi KM Virgo, dirinya teringat pada keluarganya sendiri yang menanti di rumah. Namun, pada saat yang sama, dia juga memikirkan keluarga korban yang menunggu kabar mengenai anggota keluarga mereka yang hilang.
“Ada keluarga sendiri yang menanti di rumah dan ada keluarga korban yang menanti saudara hilang dengan penuh harapan, yang sepenuhnya berharap kepada tim,” tuturnya.
Riqi mengaku merasa senang dapat terlibat langsung dalam misi tersebut. Baginya, kesempatan menjalankan tugas di operasi SAR KM Virgo merupakan bagian dari pengabdian untuk membantu para korban dan keluarga yang menantikan kabar terbaik.
Pengalaman panjang sejak 2010, pendidikan penyelaman, latihan rutin, serta kepatuhan terhadap prosedur menjadi bekal Riqi dalam menjalankan tugas. Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang terus diingatnya: setiap operasi SAR menyangkut manusia, harapan, dan keluarga yang menunggu.
Di situlah makna tugas kemanusiaan seorang personel Basarnas—bekerja di tengah ketidakpastian, menghadapi risiko dengan kesiapan, dan berupaya memberikan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan. (End)





