UpdateIKN.com, Sulawesi Utara – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada Kamis pagi (2/4/2026) masih menyisakan dampak di sejumlah wilayah. Gempa yang terjadi pukul 06.48 Wita dengan pusat di perairan tenggara Kota Bitung ini menjadi yang terbesar dalam enam tahun terakhir di kawasan tersebut.
Guncangan kuat dirasakan warga di Bitung, Manado hingga Ternate. Kepanikan sempat terjadi saat warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Di Kota Manado, gempa dilaporkan menyebabkan satu orang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan, sementara beberapa warga lainnya mengalami luka-luka.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa hingga siang hari kondisi korban masih terkendali dan tidak mengalami penambahan.
“Sehingga yang ini kebetulan kami sudah baru saja selesai melaksanakan rapat koordinasi operasi tanggap darurat di Provinsi Sulawesi Utara dan Maluku Utara terkait dengan respon kita pasca gempa bermagnitudo 7,6 di Kepulauan Mayau, Maluku Utara dari pagi. Kami sudah menerima juga laporan dari gubernur, kemudian bupati wali kota, BPBD. Alhamdulillah hingga siang ini korban jiwa tidak bertambah dari tadi pagi. Tercatat satu jiwa meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan di Kota Manado,” ujar Abdul Muhari.
Ia menjelaskan bahwa tingkat guncangan di beberapa wilayah tergolong tinggi berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity (MMI), terutama di Pulau Batang Dua yang berada dekat dengan episenter gempa serta di wilayah Minahasa Utara.
“Untuk di Pulau Batang Dua kami sudah menerima laporan dari personel TNI di lapangan, ada sekitar 19 rumah yang dinyatakan rusak, tetapi tidak ada laporan korban jiwa. Untuk Minahasa Utara, ada sekitar 10 rumah yang saat ini sudah didata mengalami kerusakan dan juga ada satu korban luka ringan,” terangnya.
Abdul Muhari menegaskan bahwa masyarakat saat ini sudah mulai kembali beraktivitas, namun tetap diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap bangunan yang mengalami kerusakan.
“Untuk aktivitas warga tentu saja ini sudah bisa kembali beraktivitas. Yang kami imbau untuk masih tetap dihindari adalah bangunan-bangunan yang sudah terdampak dari gempa utama tadi pagi. Karena hingga siang ini BMKG masih mencatat gempa-gempa susulan dengan magnitudo di atas 5,” ungkapnya.
Menurutnya, gempa susulan tersebut berpotensi membahayakan, khususnya bagi bangunan yang telah mengalami keretakan struktur seperti tiang, atap, maupun dinding.
“Magnitudo di atas 5 ini bagi bangunan, khususnya bangunan tinggi yang sudah mengalami keretakan struktur, apakah itu tiang, kuda-kuda atap yang bergeser atau sudah mengalami keretakan dinding, ini masih sangat berbahaya,” tegasnya.
BNPB bersama pemerintah daerah juga telah mengeluarkan sejumlah langkah antisipasi, termasuk menutup sementara fasilitas umum yang terdampak hingga dipastikan aman.
“Kami sudah sampaikan kepada pemerintah daerah bahwa gedung-gedung fasilitas umum, fasilitas sosial, perkantoran, rumah ibadah, kami mencatat setidaknya ada delapan gereja yang rusak dari kedua provinsi ini tidak digunakan sementara. Kita perlu memastikan dari dinas terkait bahwa bangunan tersebut aman sebelum digunakan kembali,” katanya.
Selain itu, kegiatan belajar mengajar untuk sementara waktu diliburkan guna memastikan kondisi bangunan sekolah.
“Khususnya untuk fasilitas pendidikan, sekolah-sekolah, kami imbau untuk diliburkan satu sampai dua hari ini untuk memastikan gedung sekolah benar-benar aman atau tidak mengalami kerusakan struktur,” katanya.
Di sektor kesehatan, beberapa fasilitas pelayanan kesehatan juga mengambil langkah evakuasi sementara terhadap pasien sebagai upaya mitigasi risiko.
“Tadi disampaikan juga ada rumah sakit yang mengevakuasi sementara pasiennya. Kita meminta dinas terkait untuk memeriksa kondisi kelayakan struktur fasilitas kesehatan tersebut sebelum digunakan kembali,” tutup Abdul Muhari.
Hingga kini, petugas gabungan masih terus melakukan pemantauan dan pendataan di lokasi terdampak. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, serta mengikuti arahan resmi guna menghindari risiko yang lebih besar akibat gempa susulan. (*/Par)






