UpdateIKN.com, Jakarta – Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia menunjukkan tren membaik pada Juni 2026. Meski masih mencatat defisit, nilainya berhasil ditekan menjadi 0,45 miliar dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 1,61 miliar dolar AS. Perbaikan ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan ekonomi nasional di tengah tantangan perdagangan global.
Perbaikan neraca perdagangan terutama didorong oleh lonjakan surplus sektor nonmigas. Pada Juni 2026, surplus nonmigas mencapai 3,04 miliar dolar AS, naik dari 2,15 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut menjadi penopang utama yang mampu menahan tekanan dari sektor migas.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan membaiknya neraca perdagangan tidak terlepas dari penguatan ekspor nonmigas.
“Defisit neraca perdagangan yang lebih rendah terutama bersumber dari surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat, diikuti dengan defisit neraca perdagangan migas yang menurun,” ujarnya, dalam keterangan resmi, Senin (3/8/2026).
Data menunjukkan nilai ekspor nonmigas sepanjang Juni 2026 mencapai 24,39 miliar dolar AS. Angka tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap berbagai komoditas unggulan Indonesia di pasar internasional.
Ramdan menjelaskan, komoditas berbasis sumber daya alam masih menjadi penyumbang terbesar kenaikan ekspor.
“Peningkatan ekspor nonmigas terutama berasal dari komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati serta bahan bakar mineral,” katanya.
Selain sektor berbasis sumber daya alam, industri manufaktur juga memberikan kontribusi besar terhadap ekspor nasional. Produk seperti mesin dan perlengkapan elektrik beserta komponennya, serta mesin dan peralatan mekanis, mencatat peningkatan permintaan dari luar negeri.
“Ekspor produk manufaktur, termasuk mesin dan perlengkapan elektrik serta mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya, turut menopang kenaikan ekspor nonmigas,” kata Ramdan.
Dari sisi pasar tujuan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi negara tujuan utama ekspor Indonesia. Ketiga negara tersebut terus memberikan kontribusi terbesar terhadap penjualan produk nonmigas Indonesia di pasar global.
Sementara itu, sektor migas juga memperlihatkan perkembangan yang lebih baik. Defisit perdagangan migas turun menjadi 3,49 miliar dolar AS, dibandingkan 3,76 miliar dolar AS pada Mei 2026. Penurunan ini terjadi karena pertumbuhan ekspor migas lebih tinggi dibandingkan peningkatan impor.
“Defisit neraca perdagangan migas menurun sejalan dengan peningkatan ekspor migas yang lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan impor migas,” ujar Ramdan.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 masih mencatat surplus sebesar 3,58 miliar dolar AS. Capaian tersebut menunjukkan fondasi perdagangan luar negeri Indonesia tetap kuat meski menghadapi tekanan ekonomi global.
Bank Indonesia optimistis tren positif ini dapat terus dipertahankan melalui sinergi kebijakan bersama pemerintah dan otoritas terkait.
“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” pungkas Ramdan Denny Prakoso. (*/Putri/Par)






