DPRD Samarinda Soroti Stigma terhadap Pasien TBC

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti.

UpdateIKN.com, Samarinda –   Selain persoalan kesehatan, penderita tuberkulosis (TBC) juga masih menghadapi tekanan sosial yang berdampak pada kondisi ekonomi keluarga.

DPRD Samarinda menilai stigma masyarakat terhadap pasien TBC menjadi salah satu penyebab mereka kehilangan kesempatan bekerja hingga terjebak dalam lingkaran kemiskinan.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengatakan masih banyak penderita TBC yang memilih membatasi aktivitas karena khawatir mendapat penolakan dari lingkungan sekitar. Kondisi tersebut membuat mereka semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup selama menjalani pengobatan.

“Masih ada masyarakat yang memberikan stigma negatif kepada penderita TBC. Akibatnya mereka kesulitan bekerja, bahkan ada yang kehilangan mata pencaharian. Dampaknya tentu sangat berat bagi ekonomi keluarga,” ujarnya, baru-baru ini.

Menurut Sri Puji, kondisi itu menjadi alasan kuat mengapa pemerintah perlu memberikan dukungan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bantuan tersebut dapat mengurangi beban pengeluaran keluarga selama pasien menjalani terapi yang membutuhkan waktu berbulan-bulan.

“Kalau kebutuhan makan mereka bisa dibantu pemerintah, setidaknya beban ekonomi keluarga menjadi lebih ringan. Mereka bisa lebih fokus menjalani pengobatan sampai sembuh,” katanya.

Dia menambahkan, upaya mengatasi TBC tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Edukasi kepada masyarakat juga harus diperkuat agar stigma terhadap pasien perlahan menghilang.

“Masyarakat harus memahami bahwa penderita TBC perlu didukung untuk sembuh, bukan dijauhi. Edukasi menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan sekaligus menghapus diskriminasi,” katanya.

Sri Puji berharap pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat kolaborasi dalam penanganan TBC, baik melalui layanan kesehatan, bantuan sosial, maupun peningkatan kesadaran masyarakat.

“Penanganan TBC harus dilakukan secara menyeluruh. Pengobatan berjalan, kebutuhan gizi terpenuhi, stigma berkurang, dan masyarakat ikut mendukung proses penyembuhan pasien. Dengan begitu hasilnya akan lebih maksimal,” pungkasnya. (Adv/DPRD Samarinda)

Iklan