UpdateIKN.com, Samarinda –   Persaingan bisnis travel umroh di Indonesia semakin ketat. Namun, di tengah banyaknya penyedia layanan dengan paket yang relatif serupa, Mudah Ke Baitullah (MKB) memilih menghadirkan nilai tambah melalui pendekatan Sirah Nabawiyyah yang lebih mendalam kepada setiap jamaah.

CEO Mudah Ke Baitullah, Sujianto, mengatakan perjalanan panjang perusahaan berawal dari pengalaman tim inti yang telah berkecimpung di dunia umroh sejak 2014. Berbekal pengalaman tersebut, tim kemudian dipercaya menjadi bagian dari berbagai perusahaan travel sebelum akhirnya mendirikan Mudah Ke Baitullah pada 2019.

“Secara personal, tim inti kami sudah berpengalaman di dunia umroh sejak 2014. Kami berkembang menjadi tim inti di berbagai travel hingga akhirnya pada 2019 mendirikan Mudah Ke Baitullah untuk mengurus keberangkatan kelompok pengajian, pondok pesantren, dan berbagai majelis,” ujarnya.

Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi titik balik yang memaksa seluruh pelaku industri melakukan adaptasi, termasuk perubahan strategi pemasaran. Mudah Ke Baitullah kemudian memanfaatkan platform digital untuk menjangkau calon jamaah yang lebih luas.

“Pasca corona, market berubah. Kami beradaptasi melalui media online, khususnya Instagram, dan berhasil memberangkatkan jamaah online pertama pada Januari 2023. Setelah itu kami terus berkembang melalui berbagai platform digital lainnya, termasuk live TikTok,” kata Sujianto.

Ia menilai, digitalisasi bukan hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga menjadi jembatan untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan umroh yang profesional dan transparan.

Meski demikian, Sujianto mengakui bahwa secara umum layanan utama yang ditawarkan setiap travel umroh tidak jauh berbeda. Seluruh penyelenggara pada dasarnya hanya mengombinasikan komponen perjalanan seperti tiket pesawat, hotel, hingga visa yang dapat diakses oleh siapa saja.

“Kalau berbicara layanan utama, hampir semua travel sama. Travel hanya meracik komponen seperti tiket, hotel, dan visa. Yang membedakan adalah bagaimana kami memberikan nilai tambah kepada jamaah,” terangnya.

Karena itu, Mudah Ke Baitullah terus memperkuat identitasnya melalui program yang menitikberatkan pada pemahaman sejarah Islam atau Sirah Nabawiyyah. Konsep tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman spiritual yang lebih mendalam dibandingkan perjalanan umroh pada umumnya.

“Faktor pembeda yang terus kami perjuangkan adalah penekanan tema Sirah Nabawiyyah yang lebih dalam. Jamaah tidak hanya beribadah, tetapi juga memahami perjalanan dakwah Rasulullah melalui lokasi-lokasi bersejarah,” ungkap Sujianto.

Ia menjelaskan, jamaah juga diajak mengunjungi sejumlah destinasi yang jarang masuk dalam agenda perjalanan umroh reguler. Dengan demikian, setiap keberangkatan memiliki pengalaman yang berbeda dan tidak monoton.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman berbeda di setiap keberangkatan. Jamaah kami tidak hanya mengunjungi tempat-tempat yang umum, tetapi juga mengeksplorasi lokasi yang jarang dikunjungi jamaah unroh sehingga perjalanan menjadi lebih bermakna,” ujarnya.

Komitmen tersebut diwujudkan secara lebih lengkap melalui program long stay yang dirancang untuk memberikan waktu lebih panjang kepada jamaah dalam memahami jejak perjuangan Rasulullah SAW secara langsung di Tanah Suci.

“Secara spesifik, bagaimana Sirah Nabawiyyah diwujudkan dalam layanan kami di Mudah Ke Baitullah dapat dirasakan melalui program long stay. Di sanalah jamaah memperoleh pengalaman belajar sejarah Islam yang lebih utuh sekaligus memperkuat nilai ibadah selama berada di Tanah Suci,” tutup Sujianto. (End)

Iklan