UpdateIKN.com, NTT –   Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menimbulkan dampak serius. Hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 17.30 WITA, 40 orang dilaporkan meninggal dunia dan 50 lainnya mengalami luka-luka, sehingga total korban sementara mencapai 90 orang.

Jumlah tersebut masih dapat berubah karena proses pencarian, pendataan, identifikasi, serta verifikasi korban masih berlangsung di sejumlah lokasi terdampak. Basarnas bersama unsur terkait terus bergerak untuk memastikan seluruh wilayah yang terdampak dapat dijangkau.

Kepala Basarnas Marsdya TNI Mohammad Syafii mengatakan, operasi pencarian dan pertolongan belum dihentikan. Petugas masih melakukan asesmen terhadap kondisi di lapangan sekaligus mencari kemungkinan adanya korban yang belum ditemukan.

“Operasi SAR dan assessment dampak masih terus kami lakukan,” ujar Syafii.

Berdasarkan pendataan sementara unsur SAR, korban meninggal dunia tersebar di beberapa wilayah Flores. Manggarai Timur mencatat 11 orang meninggal dunia, Sikka tiga orang, Manggarai Barat satu orang, Manggarai–Reo/Reok 24 orang, dan Nagekeo satu orang.

Sementara itu, Kabupaten Ngada belum memiliki data korban yang teridentifikasi hingga pembaruan data pukul 17.30 WITA.

Selain korban meninggal dunia, sebanyak 50 orang mengalami luka-luka, termasuk luka berat. Dengan demikian, jumlah korban sementara akibat gempa Flores M7,7 mencapai 90 orang.

Basarnas menegaskan angka tersebut belum final karena proses verifikasi dan konsolidasi data masih dilakukan.

“Data korban dan kondisi kerusakan masih terus kami verifikasi dan akan kami laporkan secara berkala,” kata Syafii.

Untuk mempercepat penanganan, Basarnas mengerahkan personel dari berbagai satuan. Tim Rescue Kantor SAR Maumere, Unit Siaga SAR Ende, dan Pos SAR Labuan Bajo telah tiba di sektor masing-masing.

Para personel menjalankan sejumlah tugas, mulai dari asesmen dampak gempa, pencarian korban, pertolongan terhadap masyarakat, hingga proses evakuasi.

“Seluruh unsur SAR dikerahkan untuk menjangkau wilayah terdampak,” ujar Syafii.

Operasi tidak hanya difokuskan pada pencarian korban meninggal dunia. Tim SAR juga berupaya memastikan masyarakat yang mengalami luka-luka segera mendapatkan pertolongan dan dievakuasi apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut.

“Memberikan pertolongan kepada masyarakat, serta melakukan evakuasi terhadap korban,” katanya.

Penguatan operasi dilakukan dengan mengerahkan KN SAR 250 Puntadewa menuju wilayah Nagekeo bersama Tim Rescue. Kapal tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan pencarian dan pertolongan di kawasan terdampak.

Dukungan dari udara juga disiapkan. Helikopter Basarnas HR-3604 dipersiapkan untuk mendukung mobilisasi personel, serta kebutuhan operasi, terutama menuju wilayah yang menghadapi kendala akses melalui jalur darat.

Penanganan korban gempa Flores tidak berlangsung mudah. Sejumlah ruas jalan menuju wilayah terdampak mengalami gangguan akibat longsoran dan material batu yang jatuh atau rockfall.

Kondisi tersebut membuat akses menuju beberapa lokasi menjadi lebih sulit. Petugas harus melakukan pemantauan dan penanganan akses agar operasi pencarian dan pertolongan dapat terus berjalan.

“Koordinasi dengan TNI/Polri, BPBD, pemerintah daerah, PMI, BMKG dan potensi SAR terus dilakukan untuk mempercepat penanganan di lapangan,” tutur Syafii.

Gangguan juga terjadi pada jaringan komunikasi di sejumlah wilayah. Padamnya listrik berdampak terhadap komunikasi masyarakat maupun petugas di lapangan.

Untuk mendukung koordinasi unsur SAR, jaringan Starlink digunakan sebagai salah satu dukungan komunikasi. Fasilitas tersebut membantu menjaga komunikasi ketika jaringan konvensional mengalami gangguan.

Di sisi lain, peringatan dini tsunami setelah gempa telah berakhir. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada dan mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi.

Basarnas mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Informasi mengenai korban, kerusakan, maupun kondisi pascagempa masih dapat berubah seiring proses pendataan di lapangan.

“Kami bersama seluruh unsur SAR akan terus melakukan pencarian, pertolongan dan evakuasi di wilayah yang terdampak gempa,” tegas Syafii.

Hingga Sabtu petang, operasi pencarian, pertolongan, evakuasi, dan asesmen dampak gempa masih berlangsung. Basarnas terus memperluas jangkauan operasi untuk memastikan tidak ada wilayah terdampak yang luput dari pemeriksaan.

Kondisi lapangan yang dinamis membuat petugas harus bekerja secara bertahap, terutama di daerah yang akses jalannya terganggu dan komunikasi belum sepenuhnya pulih.

“Seluruh unsur SAR dikerahkan untuk menjangkau wilayah terdampak,” kata Syafii.

Basarnas memastikan pembaruan data korban akan terus dilakukan setelah hasil pendataan di lapangan diverifikasi dan dikonsolidasikan. Masyarakat diminta tetap tenang, mengikuti arahan petugas, serta menjadikan informasi resmi pemerintah dan BMKG sebagai rujukan.

“Data korban dan kondisi kerusakan masih terus kami verifikasi,” pungkas Syafii. (*/Par)

Iklan