UpdateIKN.com, Sumba Barat Daya –   Menanamkan kejujuran ternyata bisa dimulai dari ruang kelas. Sebanyak 149 siswa SDK Delo, Desa Delo, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, mendapat kesempatan belajar langsung tentang pentingnya integritas melalui program KPK Mengajar, Senin (10/8/2026).

Kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di sekolah tersebut membawa pesan sederhana, tetapi penting, perilaku antikorupsi tidak harus menunggu seseorang dewasa. Kebiasaan berkata jujur, bertanggung jawab, dan berani melakukan hal yang benar dapat dibentuk sejak anak-anak.

Kasatgas 1 Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Medio, menekankan bahwa kejujuran menjadi nilai dasar yang harus terus ditanamkan dalam kehidupan.

“Kami ingin mengajarkan dan mengingatkan kembali tentang kejujuran. Karena ini adalah inti utama yang harus kita tanamkan dari diri kita,” ujar Medio.

Bagi KPK, pendidikan antikorupsi kepada anak bukan sekadar mengenalkan istilah korupsi. Jauh lebih penting adalah membangun kebiasaan yang membuat anak terbiasa memilih tindakan yang benar dalam situasi sehari-hari.

Di lingkungan sekolah, nilai tersebut dapat terlihat dari hal-hal sederhana. Siswa belajar menyelesaikan tugas dengan tanggung jawab, tidak mengambil sesuatu yang bukan miliknya, berani mengakui kesalahan, serta menghargai hak teman.

Medio mengatakan pembentukan karakter juga membutuhkan keberanian. Sebab, memahami mana yang benar belum cukup apabila seseorang tidak memiliki keberanian untuk mempertahankannya.

“Selain itu juga keberanian dan nilai-nilai antikorupsi lainnya,” kata Medio.

Pesan itulah yang dibawa KPK melalui program KPK Mengajar. Pendidikan integritas diperkenalkan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik sehingga nilai antikorupsi tidak terasa sebagai sesuatu yang jauh dari keseharian mereka.

Kejujuran, misalnya, bukan hanya tentang mengatakan sesuatu sesuai kenyataan. Nilai tersebut juga berkaitan dengan kepercayaan. Anak yang terbiasa jujur akan belajar bertanggung jawab atas perkataan dan tindakannya.

Sementara keberanian menjadi bekal ketika mereka menghadapi pilihan yang tidak mudah. Berani mengakui kesalahan dan berani menolak tindakan yang keliru merupakan bagian dari karakter yang ingin dibangun melalui pendidikan integritas.

“Kami ingin mengajarkan dan mengingatkan kembali tentang kejujuran,” ujar Medio.

Kehadiran KPK di SDK Delo sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan antikorupsi perlu menjangkau berbagai lapisan pendidikan, termasuk sekolah yang berada di daerah. Pesan tentang integritas tidak hanya penting bagi siswa di kota-kota besar, tetapi juga bagi anak-anak di daerah.

Sekolah pun memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Apa yang dipelajari siswa di ruang kelas dapat diperkuat melalui kebiasaan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Menurut KPK, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penindakan terhadap pelaku. Pencegahan melalui pendidikan dan pembentukan budaya integritas juga menjadi bagian penting dari upaya jangka panjang.

“Selain itu juga keberanian dan nilai-nilai antikorupsi lainnya,” kata Medio.

Dari 149 siswa SDK Delo, pendidikan integritas diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan KPK Mengajar selesai. Nilai yang diperkenalkan dapat terus hidup melalui kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Sebab, generasi antikorupsi tidak lahir secara tiba-tiba. Karakter itu dibentuk dari keputusan-keputusan sederhana sejak dini, memilih jujur ketika tidak ada yang melihat, bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan, dan berani berdiri di pihak yang benar.

“Kejujuran adalah inti utama yang harus kita tanamkan dari diri kita,” tutup Medio. (*/Par)

Iklan