UpdateIKN.com, Nusantara – Program reboisasi IKN terus dipercepat. Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) bersama sejumlah pemangku kepentingan menggelar aksi penanaman pohon di kawasan Taman Hutan Raya Soeharto KM 65, sebagai langkah konkret memulihkan kawasan hutan yang terdampak aktivitas ilegal, Selasa (28/4/2026).
Kegiatan penanaman pohon di Nusantara ini menyasar area terbuka akibat perambahan hutan dalam beberapa tahun terakhir. Sebanyak 100 bibit pohon ditanam, terdiri dari jenis gaharu, balangeran, nyatoh, meranti, dan nyamplung, tanaman khas hutan tropis yang memiliki nilai ekologis tinggi.
Bibit tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Otorita Ibu Kota Nusantara dan Universitas Mulawarman untuk memperkuat fungsi ekosistem sekaligus mendukung pengembangan energi baru terbarukan berbasis kehutanan.
Aksi ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Dinas Kehutanan Kalimantan Timur, unsur TNI-Polri, aparat kecamatan dan desa, hingga pengelola kawasan Tahura. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga hutan tropis IKN.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Safitri, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol komitmen bersama dalam melindungi kawasan hutan.
“Kami sudah melakukan berbagai pendekatan persuasif untuk menghentikan aktivitas ilegal di kawasan ini. Namun faktanya, ketika tidak ada pengawasan, kegiatan tersebut masih terjadi. Karena itu, penanaman pohon hari ini menjadi penegasan bahwa semua pihak berkomitmen menjaga Tahura Soeharto. Di sisi lain, proses hukum terhadap pelanggaran tetap berjalan,” ujar Myrna.
Menurutnya, keberhasilan pemulihan hutan Kalimantan tidak hanya bergantung pada penanaman, tetapi juga pengawasan berkelanjutan dan penegakan hukum yang konsisten.
Sementara itu, perwakilan Universitas Mulawarman, Ibrahim, menyoroti pentingnya menjaga ekosistem hutan hujan tropis yang memiliki peran vital bagi lingkungan global.
“Hutan hujan tropis memiliki kemampuan menyimpan hingga 70 persen vegetasi, sehingga keberadaannya sangat penting bagi keseimbangan ekosistem. Namun rehabilitasi kawasan yang sudah lama terbuka bukan hal mudah. Dibutuhkan pendekatan terpadu, tidak hanya penanaman tetapi juga perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan,” katanya.
Ia menambahkan, sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat menjadi faktor utama dalam memastikan keberhasilan jangka panjang reboisasi IKN. (Putri/Par)






