UpdateIKN.com, Jakarta –   QRIS Antarnegara semakin menunjukkan perannya dalam memperlancar transaksi ekonomi lintas batas. Hingga Juli 2026, pembayaran oleh pengguna dari negara mitra di Indonesia telah mencapai 21 juta transaksi dengan nilai Rp5,90 triliun.

Di sisi lain, masyarakat Indonesia mencatat 4,67 juta transaksi saat menggunakan QRIS Antarnegara di negara mitra dengan nilai Rp1,73 triliun. Data tersebut menunjukkan aktivitas pembayaran digital lintas negara terus berkembang seiring semakin luasnya konektivitas sistem pembayaran Indonesia dengan negara lain.

Perkembangan itu turut mengantarkan QRIS Antarnegara meraih 50-in-5 Awards 2026 kategori Kolaborasi. Penghargaan yang digelar Digital Public Goods Alliance (DPGA) dan Co-Develop tersebut diberikan dalam rangkaian 50-in-5 Milestone Event pada Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Amerika Serikat.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menerima penghargaan tersebut mewakili Indonesia. Penghargaan diserahkan Chief Investment Officer Co-Develop Lindsey Crumbaugh pada 21 September 2026.

“QRIS Antarnegara menunjukkan bahwa interoperabilitas tidak mengharuskan setiap negara memiliki sistem yang sama,” ujar Filianingsih.

Menurut Filianingsih, keberhasilan menghubungkan sistem pembayaran berbagai negara tidak semata-mata bergantung pada penggunaan teknologi yang seragam. Kesamaan tujuan, kepercayaan, standar, dan komitmen menjadi elemen penting dalam membangun konektivitas tersebut.

“Yang dibutuhkan adalah kesamaan tujuan, kepercayaan, standar yang disepakati, serta komitmen untuk menghubungkan sistem yang telah dimiliki masing-masing negara,” katanya.

Skema tersebut memungkinkan masyarakat Indonesia tetap menggunakan aplikasi pembayaran yang sudah familiar ketika berada di negara mitra. Hal serupa berlaku bagi wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia. Mereka dapat menggunakan aplikasi pembayaran dari negara asal untuk melakukan transaksi pada merchant QRIS.

“Dengan menghubungkan sistem, kita menghubungkan masyarakat dan membuka peluang melampaui batas negara,” kata Filianingsih.

Konektivitas QRIS Antarnegara saat ini telah diperluas ke Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Kerja sama tersebut dikembangkan melalui koordinasi Bank Indonesia dengan otoritas dan industri sistem pembayaran di negara mitra.

Pada sektor usaha domestik, perluasan konektivitas ini membuka akses transaksi yang lebih mudah bagi wisatawan asing. Terlebih, ekosistem QRIS di Indonesia telah memiliki basis merchant yang besar. Hingga Juli 2026, jumlah merchant QRIS mencapai 45,46 juta, dengan 96,69 persen di antaranya merupakan UMKM.

“Melalui konektivitas tersebut, masyarakat Indonesia dapat menggunakan aplikasi pembayaran yang telah familiar untuk bertransaksi di negara mitra,” kata Filianingsih.

Besarnya porsi UMKM dalam ekosistem QRIS membuat konektivitas pembayaran lintas negara juga memiliki kaitan dengan aktivitas usaha skala kecil. Pelaku UMKM dapat menerima pembayaran dari wisatawan mancanegara tanpa harus menyediakan sistem pembayaran yang sepenuhnya baru.

“QRIS Antarnegara menghubungkan ekosistem pembayaran domestik Indonesia dengan negara mitra secara interoperabel,” katanya.

Dari sisi transaksi, nilai pembayaran pengguna negara mitra di Indonesia hingga Juli 2026 lebih besar Rp4,17 triliun dibandingkan transaksi pengguna Indonesia di negara mitra. Perbedaan tersebut sejalan dengan tingginya aktivitas pembayaran wisatawan dan pengguna asing di Indonesia melalui kanal QRIS Antarnegara.

Bank Indonesia menyatakan perluasan konektivitas akan terus dilakukan, terutama dengan negara yang mempunyai hubungan erat dengan Indonesia dalam perdagangan, pariwisata, mobilitas masyarakat, dan kegiatan ekonomi lainnya. Model kerja sama yang sudah berjalan akan menjadi dasar pengembangan konektivitas berikutnya dengan menyesuaikan karakteristik masing-masing negara.

“Dengan menghubungkan sistem, kita menghubungkan masyarakat,” ujar Filianingsih.

Penghargaan 50-in-5 Awards 2026 sekaligus menambah pengakuan internasional terhadap pengembangan infrastruktur pembayaran digital Indonesia.

Bank Indonesia menempatkan interoperabilitas, keamanan, inklusi, dan kolaborasi antarnegara sebagai bagian dari pengembangan sistem pembayaran yang dapat mendukung konektivitas ekonomi regional dan global.

“Kita membuka peluang melampaui batas negara,” tutup Filianingsih. (*/Par)

Iklan