Krisis Air Samarinda Jangan Ditambah Hoaks

UpdateIKN.com, Samarinda – Persoalan air bersih yang melanda sejumlah kawasan di Samarinda selama musim kemarau membutuhkan ketenangan masyarakat. Ketua DPRD Samarinda Helmi Abdullah meminta warga tidak memperburuk situasi dengan mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
Menurut Helmi, masyarakat saat ini sudah menghadapi persoalan nyata berupa keterbatasan pasokan air. Karena itu, informasi yang keliru dikhawatirkan membuat warga semakin cemas.
“Jangan membuat berita-berita yang bisa menimbulkan huru-hara, bencana dan lain-lainnya,” ujar Helmi baru-baru ini.
Perhatian tersebut muncul setelah sebuah poster beredar di media sosial dan menyebut masyarakat tidak diperbolehkan menampung air hujan. Poster itu mengaitkan air hujan dengan material yang digunakan dalam kegiatan pembenihan awan.
Kabar tersebut kemudian diklarifikasi BMKG Samarinda. Informasi mengenai larangan menampung air hujan itu dipastikan bukan imbauan yang dikeluarkan BMKG.
Menurut Helmi, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu lebih kritis menghadapi berbagai informasi yang muncul di media sosial. Tidak semua informasi yang terlihat meyakinkan dapat langsung dianggap sebagai fakta.
“Harapan kita masyarakat kita bisa memilah-milah, baik membuat berita maupun menerima berita itu,” katanya.
Terlebih, kondisi cuaca di Samarinda memang dapat berubah meski Kalimantan Timur tengah memasuki musim kemarau. Hujan yang turun di suatu wilayah tidak bisa begitu saja disimpulkan sebagai dampak dari Operasi Modifikasi Cuaca.
Helmi berharap masyarakat lebih mengutamakan informasi dari lembaga yang memiliki kewenangan. Langkah tersebut dinilai penting agar warga tidak mengambil keputusan berdasarkan kabar yang belum jelas asal-usulnya.
Di tengah isu tersebut, persoalan air bersih tetap menjadi pekerjaan yang harus mendapat perhatian. Intrusi air laut membuat kadar garam pada sumber air baku meningkat sehingga memengaruhi pengolahan dan distribusi air oleh Perumdam Tirta Kencana.
Sejumlah warga pun merasakan dampaknya. Ketika aliran air terganggu, sebagian masyarakat harus mengandalkan pasokan alternatif dan mengantre untuk memperoleh air bagi kebutuhan rumah tangga.
Helmi mengatakan kondisi tersebut tidak berarti upaya pelayanan berhenti. Perumdam Tirta Kencana tetap berusaha mendistribusikan air, meskipun kemampuan produksi dan sumber air baku menghadapi keterbatasan.
“Kita juga minta untuk menghemat penggunaan air karena memang dari pihak Perumda Tirta Kencana juga berupaya untuk mendistribusikan air setiap hari,” ungkapnya.
Karena itu, Helmi mengajak masyarakat mengubah kebiasaan penggunaan air selama kondisi kemarau. Air yang tersedia diharapkan diprioritaskan untuk kebutuhan penting seperti minum, memasak, mandi, dan keperluan rumah tangga lainnya.
“Harapan kita dari pihak masyarakat juga untuk berhemat, mempergunakan seperlunya,” tandasnya.
Menurut Helmi, keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan agar persoalan air bersih tidak semakin berat. Pemerintah dan pengelola layanan air dapat berupaya menjaga distribusi, sementara warga membantu dengan mengurangi pemakaian yang tidak diperlukan.
“Kalau semuanya saling mendukung, mudah-mudahan kebutuhan air masyarakat tetap bisa kita jaga di tengah kondisi kemarau ini,” tutupnya. (Adv/DPRD Samarinda)





