UpdateIKN.com, Samarinda Laju inflasi Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan perlambatan pada Oktober 2026. Kenaikan harga barang dan jasa tercatat hanya 0,07 persen secara bulanan (mtm), lebih rendah dibandingkan September yang mencapai 0,18 persen.
Meski demikian, tekanan harga masih perlu diwaspadai. Inflasi tahunan Kaltim tercatat sebesar 4,04 persen (yoy), sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,90 persen (ytd).
Pergerakan harga di sejumlah daerah juga menunjukkan kondisi yang berbeda. Samarinda mengalami inflasi 0,30 persen dan Balikpapan 0,15 persen. Sebaliknya, Penajam Paser Utara (PPU) mencatat deflasi 0,18 persen, sementara Berau mengalami deflasi sebesar 0,93 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur (BI Kaltim), Jajang Hermawan, menjelaskan bahwa pengendalian inflasi membutuhkan kerja sama lintas sektor agar keseimbangan pasokan dan permintaan tetap terjaga.
“Sinergi TPID terus diperkuat melalui strategi 4K, mulai dari menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, hingga memperkuat komunikasi efektif. Upaya ini penting untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat,” ujar Jajang, dalam keterangan resminya.
Pada Oktober, tekanan inflasi terutama bersumber dari kelompok transportasi serta rekreasi, olahraga, dan budaya. Kenaikan tarif angkutan udara dipengaruhi pemberlakuan kembali fuel surcharge dan kenaikan harga avtur. Sementara itu, kemarau menyebabkan pasokan sejumlah komoditas hortikultura terbatas sehingga harganya meningkat.
Sebaliknya, penurunan harga sejumlah komoditas pangan mampu meredam tekanan inflasi. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara keseluruhan bahkan mencatat deflasi.
Untuk menjaga stabilitas harga, TPID telah menggelar Gerakan Pangan Murah di tujuh kabupaten/kota, yakni Samarinda, Berau, Kutai Kartanegara, Bontang, Kutai Barat, Kutai Timur, dan Mahakam Ulu.
Penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) bersama Bulog juga terus dioptimalkan. Hingga Oktober 2026, realisasinya telah mencapai sekitar 90 persen dari target.
Selain menjaga pasokan, TPID memperkuat distribusi melalui pemantauan stok BBM dan LPG serta dukungan perbaikan akses jalan di Kabupaten Mahakam Ulu. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi hambatan distribusi kebutuhan pokok, khususnya di wilayah dengan tantangan geografis.
Menghadapi Natal 2026 dan Tahun Baru 2027, BI bersama TPID akan memperkuat mitigasi dini melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS), koordinasi pasokan, serta pemantauan perkembangan harga.
Jajang berharap konsistensi pengendalian inflasi dapat menjaga stabilitas harga di seluruh wilayah Kaltim, sehingga daya beli masyarakat tetap terlindungi dan kegiatan ekonomi daerah terus berjalan positif. (*/End/Par)






