UpdateIKN.com, Jogyakarta  Bank Indonesia (BI) Kalimantan Timur (Kaltim) mendorong pemanfaatan teknologi pertanian untuk mengurangi ketergantungan daerah terhadap pasokan pangan dari luar Kalimantan Timur.

Deputi Kepala Perwakilan BI, Kaltim Bayu Adi Hardiyanto mengatakan saat ini sekitar 70–80 persen kebutuhan pangan Kaltim masih dipasok dari luar daerah. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan BI turut mendorong penguatan produksi pertanian lokal.

“Kalimantan Timur masih dipasok sekitar 70–80 persen dari luar. Kami tentunya sejalan dengan itu memberikan pendampingan kepada pemerintah, salah satunya melalui pilot project,” katanya, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, keterlibatan BI dalam sektor pertanian bukan berarti mengambil alih peran instansi teknis. Sebagai bank sentral, BI memiliki mandat untuk menjaga stabilitas perekonomian, termasuk melalui pengendalian inflasi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sektor pangan menjadi salah satu perhatian karena ketersediaan dan harga pangan memiliki kaitan langsung dengan inflasi daerah.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan BI Kaltim adalah digital farming melalui penggunaan drone sprayer. Teknologi tersebut telah diuji dalam sejumlah pilot project di beberapa lokasi di Kaltim dan mulai memberikan manfaat bagi petani.

Di sisi produktivitas, penerapan teknologi pertanian dalam demplot di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menunjukkan hasil panen meningkat dari sekitar 4,8 ton menjadi 6,95 ton per hektare. Peningkatan tersebut mencapai sekitar 44,8 persen dibandingkan hasil sebelumnya.

Tak hanya produktivitas, teknologi drone juga memberikan efisiensi dalam proses budidaya. Penyemprotan dan pemupukan yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar enam hingga delapan jam per hektare dapat dilakukan hanya sekitar 10 menit per hektare.

Bayu mengatakan efisiensi tersebut menjadi salah satu alasan teknologi drone mulai dilirik petani.

“Petani merasakan manfaatnya. Kalau menggunakan tenaga orang, mencari tenaga untuk menyemprot juga agak susah. Dengan drone sprayer, dari sisi biaya dan waktu bisa lebih efisien,” ujarnya.

Drone sprayer juga memungkinkan proses penyemprotan dilakukan secara lebih terukur. Teknologi tersebut dapat membantu menentukan area yang akan disemprot dan kebutuhan pupuk sehingga penggunaannya dapat dilakukan secara lebih merata.

Keberhasilan pilot project tersebut mulai terlihat dari munculnya petani yang membeli drone secara mandiri setelah merasakan manfaatnya.

“Karena petani melihat manfaatnya, beberapa tempat petani membeli sendiri drone-nya,” kata Bayu.

Selain digital farming, BI Kaltim juga mendorong penerapan Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA). Pendekatan tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan sumber daya lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap input dari luar.

Demplot LEISA juga telah dilakukan di kawasan Bukit Biru, Kukar. BI berharap hasil positif dari program percontohan dapat mendorong petani lain mengadopsi pola pertanian tersebut.

Bayu menegaskan program BI di sektor pertanian merupakan bentuk pendampingan kepada pemerintah daerah untuk mencapai sasaran ekonomi yang lebih luas.

“Kenapa masuk pertanian? Karena kami melihat pertanian juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga inflasi,” katanya.

Ke depan, BI Kaltim berharap penerapan teknologi pertanian dan LEISA tidak berhenti sebagai proyek percontohan. Replikasi oleh petani menjadi salah satu indikator penting agar peningkatan produktivitas pangan dapat berlangsung secara lebih luas.

Dengan meningkatnya produksi lokal, Kaltim diharapkan secara bertahap mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah. Dalam jangka panjang, penguatan produksi lokal juga membuka peluang Kaltim tidak hanya menjadi daerah penerima pasokan, tetapi mampu memasok komoditas pangan ke wilayah lain.

“Penguatan ketahanan pangan Kaltim melalui digital farming dan pertanian berkelanjutan pun menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi, sekaligus mendukung pengendalian inflasi daerah,” tutupnya. (End)

Iklan