UpdateIKN.com, Jogyakarta Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Timur (Kaltim) mengajak insan media memperluas sudut pandang dalam mengangkat berbagai potensi ekonomi syariah dan UMKM di daerah.
Ajakan tersebut disampaikan Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim Bayu Adi Hardiyanto dalam kegiatan Training of Trainer (TOT) Wartawan Kalimantan Timur yang berlangsung 17–19 September 2026.
Mengangkat tema “Peran Strategis Media dalam Komunikasi Kebijakan dan Mendorong Operasi Ekonomi Syariah”, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana meningkatkan pemahaman wartawan terhadap kebijakan ekonomi, tetapi juga membuka perspektif mengenai peluang pengembangan ekonomi syariah di Kalimantan Timur.
Bayu mengatakan, perkembangan ekonomi syariah memiliki keterkaitan dengan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, sektor tersebut memiliki banyak sisi yang dapat digali media menjadi informasi yang menarik dan bermanfaat.
“Berbagai inisiatif seperti UMKM halal, ekonomi pesantren, serta pemanfaatan zakat dan wakaf menawarkan potensi yang menarik dan dekat dengan kehidupan masyarakat,” ujar Bayu.
Menurutnya, keberadaan berbagai program tersebut dapat menjadi sumber pemberitaan yang mengangkat sisi ekonomi secara lebih konkret, termasuk mengenai pelaku usaha, peluang pasar, tantangan, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Pengembangan UMKM menjadi salah satu ruang yang dapat dikaitkan dengan penguatan ekonomi syariah di Kaltim.
Bayu menyebut ekosistem UMKM halal sebagai salah satu potensi yang dapat terus diperkuat. Media dapat mengambil peran dengan menghadirkan informasi mengenai perkembangan pelaku UMKM, serta berbagai peluang yang tersedia bagi mereka.
Pemberitaan yang mengangkat kisah dan data pelaku usaha juga dapat membantu masyarakat melihat perkembangan ekonomi dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Harapannya, kegiatan ini dapat memperkaya sudut pandang media dalam menggali manfaat dan peluang yang ada di daerah,” katanya.
Selain ekonomi syariah, Bayu menekankan pentingnya pemahaman wartawan terhadap kebijakan Bank Indonesia.
Menurutnya, media merupakan salah satu jembatan penting antara kebijakan dan masyarakat. Karena itu, informasi yang disampaikan perlu akurat, utuh, dan memiliki konteks.
Salah satu isu yang membutuhkan konteks adalah inflasi, terutama ketika berkaitan dengan perubahan harga dan ketersediaan barang.
Bayu mengatakan pemberitaan ekonomi tidak cukup hanya menyampaikan angka, tetapi perlu menjelaskan kondisi yang melatarbelakanginya sehingga masyarakat mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh.
Untuk mendukung hal tersebut, kegiatan TOT juga menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman mengenai kode etik jurnalistik, termasuk akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi.
“Dengan pemahaman yang tepat, informasi yang disampaikan dapat membantu masyarakat dan menghindarkan dari kesalahpahaman,” katanya.
Bayu menyampaikan apresiasi atas sinergi yang selama ini terjalin antara BI Kaltim dan media dalam menyampaikan informasi ekonomi serta kebijakan Bank Indonesia kepada masyarakat.
Dia berharap komunikasi yang telah terbangun dapat terus diperkuat melalui kegiatan pembelajaran dan pertukaran wawasan.
BI Kaltim juga memiliki fungsi pengembangan UMKM serta pembangunan ekonomi luar negeri. Kedua fungsi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung perkembangan ekonomi daerah.
“Melalui kegiatan ini kami berharap sinergi Bank Indonesia dan media semakin kuat dalam menghadirkan informasi yang berkualitas, pemahaman kebijakan yang semakin baik, penerapan etika jurnalistik, serta penguatan wawasan ekonomi,” pungkasnya. (End)






