UpdateIKN.com, Samarinda –   Sungai Mahakam terlihat berbeda dari bawah permukaan. Jika dari atas air tampak tenang dan aktivitas perahu terus bergerak, kondisi di dalam sungai justru penuh ketidakpastian. Cahaya semakin hilang, air keruh membuat pandangan terbatas, sementara arus bisa berubah tanpa mudah terlihat dari permukaan.

Di tengah kondisi itu, Marno (38) menjalankan tugasnya sebagai anggota Tim SAR Samarinda. Menyelam bukan sekadar kemampuan yang ia miliki, tetapi menjadi bagian penting dalam operasi pencarian korban tenggelam.

Selama bertugas, Marno mengaku sudah ratusan kali melakukan penyelaman untuk mencari korban di sungai, termasuk di Sungai Mahakam. Setiap penyelaman memiliki tantangan berbeda karena kondisi dasar dan arus sungai tidak selalu sama.

“Visibilitasnya nol. Jadi di dalam itu kami memang meraba,” ujar Marno.

Kegelapan di bawah air membuat mata tidak banyak membantu. Marno bersama tim harus menyusuri dasar sungai dengan mengandalkan tangan dan perasaan untuk menemukan benda atau tubuh korban yang dicari.

Pencarian dilakukan dengan pola tertentu, salah satunya menggunakan metode pencarian melingkar atau circle search. Penyelam juga tidak bekerja seorang diri. Setidaknya dua orang berada dalam satu penyelaman untuk menjaga komunikasi dan keselamatan selama berada di bawah permukaan.

Tantangan lainnya adalah bentuk dasar Mahakam yang berbeda-beda. Ada lokasi dengan dasar sungai yang relatif datar, tetapi di titik tertentu kontur bisa berubah menjadi sangat curam dan langsung turun seperti tebing.

Arus juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan. Permukaan sungai yang terlihat tenang tidak selalu berarti kondisi di bawahnya aman. Arus yang kuat dapat menyulitkan penyelam mempertahankan posisi sekaligus memengaruhi proses pencarian.

Belum selesai dengan arus dan gelapnya air, penyelam juga harus memperhitungkan keberadaan hewan liar. Buaya menjadi salah satu ancaman yang selalu diwaspadai ketika tim melakukan pencarian di kawasan sungai.

Sebelum penyelaman dimulai, tim melakukan asesmen terlebih dahulu. Informasi dari masyarakat sekitar mengenai kondisi lokasi, kemunculan hewan liar, kekuatan arus hingga aktivitas di sekitar sungai menjadi pertimbangan sebelum penyelam diturunkan.

Jika kondisi dinilai aman, operasi penyelaman dapat dilakukan. Namun ketika situasi dianggap membahayakan, tim tidak memaksakan diri untuk masuk ke air.

“Keselamatan penolong lebih utama,” kata Marno.

Kemampuan Marno sebagai penyelam juga tidak terbentuk secara instan. Ia pernah mengikuti pelatihan selam Scuba Schools International (SSI) ketika masih berdinas di Sangatta, sekitar 2015 atau 2016. Pengalaman tersebut kemudian terus berkembang melalui berbagai operasi pencarian yang dijalaninya di lapangan.

Setiap pencarian, kata Marno, memiliki cerita dan tantangan tersendiri. Tidak ada jaminan kondisi sungai akan sama antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. Karena itu, persiapan dan penilaian situasi menjadi bagian penting sebelum penyelaman dilakukan.

Di permukaan, tim dan keluarga korban mungkin hanya menunggu kabar. Namun beberapa meter di bawahnya, penyelam harus bergerak perlahan dalam kegelapan, meraba dasar sungai untuk menemukan titik yang dicari.

Ratusan kali menyelam membuat Marno semakin memahami bahwa tugas sebagai penyelam SAR bukan hanya soal keberanian masuk ke dalam air. Ada keterampilan, ketelitian, kerja sama, dan terutama kemampuan membaca risiko.

Di gelapnya Mahakam, ketika mata tak lagi mampu melihat, tangan menjadi mata. Dari sanalah pencarian korban tenggelam terus dilakukan, dengan harapan setiap penyelaman membawa hasil dan mengakhiri penantian keluarga yang menunggu di tepian sungai. (Putri/Par)

Iklan