UpdateIKN.com, Magelang – Wisatawan yang datang menikmati panorama lereng Gunung Sumbing ternyata bukan hanya membawa kamera untuk mengabadikan keindahan alam. Kehadiran mereka juga menjadi peluang pasar baru bagi petani di Sukomakmur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Fenomena tersebut terlihat dalam kegiatan study lapangan Bank Indonesia (BI) Kaltim bersama perwakilan wartawan ekonomi dari berbagai media di Kalimantan Timur, Jumat (18/9/2026).
Rombongan mengunjungi Terasering Sitegong dan kebun sayur Sukomakmur untuk melihat secara langsung aktivitas pertanian masyarakat, sekaligus menggali potensi ekonomi di balik kawasan wisata tersebut.
Di kawasan ini, hamparan kebun sayur membentang mengikuti kontur lereng. Tanaman daun bawang, kentang, cabai, tomat dan berbagai komoditas hortikultura tumbuh di lahan masyarakat.
Bagi petani, lahan tersebut merupakan sumber penghasilan utama. Namun seiring berkembangnya Sukomakmur sebagai kawasan wisata, kebun juga berubah menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Petani kini memiliki lebih dari satu jalur pemasaran. Hasil panen dapat diserahkan kepada pengepul, dipasarkan ke pasar lokal, dikirim ke luar daerah, atau dijual langsung kepada wisatawan.
Salah seorang petani, Diki Ambarwati (28), mengatakan sebagian hasil panen biasanya diambil pengepul ketika memasuki masa panen. Namun, jika masih terdapat hasil yang tersisa, warga dapat menjualnya sendiri.
“Kalau pas bareng panen, nanti diambil pengepul. Kalau sisanya dijual sendiri,” ujarnya.
*Daun Bawang hingga Kentang*

Pertanian di Sukomakmur memiliki siklus panen yang beragam. Daun bawang, misalnya, dapat dipanen sekitar tiga bulan setelah ditanam. Begitu pula kentang yang umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.
Daun bawang menjadi salah satu komoditas yang memiliki permintaan cukup tinggi. Harga di tingkat petani berada di kisaran Rp6.000-Rp7.000 per kilogram.
Sementara kentang jenis super dapat mencapai sekitar Rp15.000 per kilogram.
Berbeda dengan daun bawang dan kentang, komoditas cabai memiliki karakter pasar tersendiri. Menurut petani, terdapat jenis cabai tertentu yang peminatnya tidak terlalu banyak di pasar setempat, tetapi justru memiliki permintaan dari Yogyakarta dan daerah lain.
Tomat juga menghadapi perbedaan harga antara tingkat petani dan pasar. Harga di tingkat petani disebut sekitar Rp500 per kilogram, sementara di pasar dapat mencapai sekitar Rp1.000 per kilogram.
Perbedaan tersebut menjadi gambaran bahwa harga yang diterima petani tidak selalu sama dengan harga yang dibayarkan konsumen.
*Pasarnya Menembus Kalimantan*
Menariknya, rantai perdagangan hasil pertanian Magelang tidak hanya berputar di sekitar Jawa Tengah. Sayuran dari kawasan ini dipasarkan ke Magelang, Muntilan dan sejumlah pasar lokal lainnya. Sebagian hasil pertanian juga dikirim ke Yogyakarta dan Semarang.
Bahkan, terdapat komoditas yang dipasarkan hingga luar Pulau Jawa. Sejumlah sayuran seperti labu siam, tomat, cabai, kol dan brokoli memiliki pasar di Kalimantan.
Fakta ini memperlihatkan adanya hubungan antara sentra produksi hortikultura di Jawa dengan kebutuhan pangan masyarakat di Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur.
Di satu sisi, petani membutuhkan pasar untuk menyerap hasil produksi. Di sisi lain, daerah konsumen membutuhkan pasokan sayuran secara berkelanjutan.
Rantai distribusi tersebut melibatkan banyak pihak, mulai dari petani, pengepul, pedagang hingga transportasi sebelum komoditas tiba di konsumen.
*Ketika Pertanian Bertemu Pariwisata*
Sukomakmur memiliki keunggulan yang tidak dimiliki semua sentra pertanian, yakni pemandangan alam.
Terasering yang terbentuk dari aktivitas pertanian warga menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan dapat menikmati lanskap perbukitan sekaligus melihat aktivitas petani dari dekat.
Pada hari-hari libur, jumlah wisatawan dapat meningkat. Berdasarkan keterangan warga, kunjungan dapat mencapai sekitar 400 orang dalam sehari pada periode ramai.
Dengan tiket masuk sekitar Rp10.000, arus wisatawan menciptakan aktivitas ekonomi tambahan bagi masyarakat.
Warung, penjualan hasil kebun, produk lokal dan berbagai jasa wisata ikut bergerak ketika jumlah pengunjung meningkat.
Situasi ini membuat hubungan antara pertanian dan pariwisata menjadi semakin penting.
Petani tidak hanya berperan sebagai produsen pangan. Dalam konteks agrowisata, mereka juga menjadi bagian dari atraksi wisata.
Wisatawan dapat melihat bagaimana sayuran ditanam, mengenal komoditas lokal dan bahkan membeli hasil kebun langsung dari masyarakat.
*Nepal Van Java, Ekonomi di Lereng Gunung*
Setelah dari Sukomakmur, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Nepal Van Java di Dusun Butuh, Kecamatan Kaliangkrik.
Nama Nepal Van Java menjadi populer karena bentuk permukiman Dusun Butuh yang tersusun mengikuti kontur lereng Gunung Sumbing.
Dari kejauhan, rumah-rumah warga tampak bertingkat di lereng pegunungan. Pemandangan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan.
Namun, di balik panorama tersebut terdapat kehidupan masyarakat yang sangat dekat dengan pertanian.
Permukiman dan kebun menjadi satu kesatuan lanskap. Aktivitas masyarakat sehari-hari justru menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan destinasi tidak selalu harus mengubah wajah asli sebuah desa. Kehidupan lokal yang dipertahankan dapat menjadi kekuatan utama pariwisata.
*Dari Sayuran ke Batik*

Perjalanan peserta tidak berhenti pada pertanian dan wisata alam.
Rombongan juga mengunjungi Balkondes Bumiharjo dan melihat aktivitas membatik bersama para pengrajin.
Di sini, wisatawan diperkenalkan pada proses membatik sekaligus diajak terlibat langsung.
Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi berbasis masyarakat dapat dibangun dari berbagai sektor.
Jika Sukomakmur mengandalkan kekuatan pertanian dan panorama alam, Bumiharjo menunjukkan bagaimana keterampilan dan budaya dapat dikemas menjadi pengalaman wisata.
Dua sektor tersebut memiliki karakter berbeda, tetapi sama-sama memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi. (End)






