UpdateIKN.com, Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, angkat bicara terkait maraknya aksi balap liar yang dilakukan sekelompok anak muda di Kota Tepian setiap malam.
Menurutnya, wacana penerapan jam malam bagi remaja perlu dikaji lebih dalam dan disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat setempat.
“Kalau seperti di daerahnya Pak Dedi Mulyadi di Jawa Barat, memang sudah ada imbauan agar anak-anak tidak berkeliaran di atas jam 9 malam. Tapi di Samarinda saya belum melihat ada surat edaran resmi dari Wali Kota mengenai penerapan jam malam,” katanya baru-baru ini.
Dia menyebutkan, rencana penerapan jam malam di Samarinda ini sempat dibahas secara internal oleh Ketua Komisi IV DPRD Samarinda. Bahkan, daerah lain seperti Bandung disebut telah lebih dulu menerapkan jam malam mulai pukul 10 malam sebagai upaya menekan kenakalan remaja.
Namun, Sri Puji menekankan bahwa kebijakan seperti ini tidak bisa hanya sekadar formalitas. Efektivitasnya bergantung pada dukungan dari masyarakat, terutama para orang tua.
“Kalau orang tuanya masih keluyuran di kafe jam 12 malam, lalu anaknya dilarang, siapa yang jaga mereka di rumah?” ucapnya.
Sri Puji juga menyoroti peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak. Ia menilai, penyebab maraknya aksi balap liar hingga penyimpangan sosial lainnya seringkali berakar dari lemahnya fungsi keluarga.
“Semua itu berawal dari keluarga. Kalau keluarga kuat, fungsi agama jalan, pendidikan anak juga kuat. Ketahanan sosial, ekonomi, bahkan pangan bisa terbentuk dari sana,” katanya.
Menanggapi fenomena balap liar di Samarinda, ia menilai keberadaan kegiatan tersebut tidak lepas dari fasilitas yang diberikan orang tua. Maka dari itu, menurutnya, pendekatan keluarga jauh lebih penting dibandingkan hanya membuat aturan formal.
Selain wacana jam malam, Sri Puji juga mengingatkan bahwa DPRD tengah mendorong percepatan pembahasan Raperda tentang Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga, yang dinilainya sangat relevan untuk mengatasi persoalan-persoalan sosial termasuk kenakalan remaja.
“Master akademiknya sudah selesai. Ini penting untuk memperkuat fungsi-fungsi dasar dalam keluarga, termasuk pendidikan, ekonomi, dan agama. Kalau keluarga kuat, anak-anak kita akan lebih terlindungi dari perilaku menyimpang,” ujarnya.
Dengan demikian, penerapan jam malam di Samarinda diharapkan tidak sekadar menjadi simbol penertiban, tapi juga bagian dari pendekatan yang lebih menyeluruh dan menyentuh akar persoalan: ketahanan keluarga. (Melani/ADV/DPRD Samarinda)