UpdateIKN.com, Samarinda – Capaian imunisasi campak Kaltim 2025 masih belum merata. Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur (Kaltim), persentase balita usia 0–59 bulan yang telah mendapatkan imunisasi campak-rubella (MR) tercatat sebesar 71,76 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap penyakit campak di Kalimantan Timur masih perlu ditingkatkan, terutama jika dibandingkan dengan capaian imunisasi dasar lainnya yang sudah relatif tinggi.
Data BPS mencatat imunisasi Hepatitis B mencapai 95,16 persen, Polio 93,22 persen, BCG 92,77 persen, dan DPT sebesar 90,21 persen. Perbedaan cukup jauh ini menandakan bahwa imunisasi MR 2025 menjadi salah satu pekerjaan rumah utama dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi balita di Kaltim.
Secara wilayah, capaian imunisasi campak-rubella juga menunjukkan variasi yang cukup signifikan. Sejumlah daerah bahkan masih berada di bawah angka 70 persen. Kabupaten Kutai Barat mencatat capaian terendah sebesar 61,77 persen, disusul Paser 64,89 persen, Kutai Timur 66,70 persen, serta Kota Samarinda 69,82 persen.
Sementara itu, beberapa daerah lain berada sedikit di atas angka tersebut namun belum mencapai tingkat optimal, seperti Penajam Paser Utara sebesar 70,77 persen, Kutai Kartanegara 74,93 persen, Berau 73,53 persen, dan Mahakam Ulu 75,35 persen.
Di sisi lain, capaian relatif lebih tinggi tercatat di Kota Balikpapan sebesar 77,31 persen dan Kota Bontang 77,51 persen. Meski demikian, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa masih ada ruang peningkatan agar perlindungan terhadap seluruh balita bisa lebih maksimal.
Data ini menegaskan bahwa kesenjangan cakupan imunisasi masih terjadi antarwilayah di Kalimantan Timur. Rendahnya imunisasi campak Kaltim di beberapa daerah menjadi indikator perlunya penguatan edukasi kepada masyarakat, serta peningkatan akses layanan kesehatan, terutama di wilayah dengan capaian rendah.
Imunisasi campak-rubella merupakan salah satu langkah penting dalam mencegah penyakit menular yang berpotensi menyebabkan komplikasi serius pada anak. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran orang tua dan dukungan semua pihak menjadi kunci dalam mendorong keberhasilan program imunisasi.
Dengan capaian saat ini, pemerintah daerah bersama tenaga kesehatan diharapkan dapat memperkuat strategi percepatan imunisasi, sehingga target perlindungan kesehatan anak di Kalimantan Timur dapat tercapai secara merata. (*/Par)






